Pages

July 14, 2011

Kisah Inspiratif - Tuna Netra Mandiri -

Ini kisah di trans tv yang menyentuh hatiku hari ini.. Menimbulkan rasa syukur atas nikmat yg Allah berikan terhadapku hingga hari ini ..

Seorang laki2 tuna netra yang mau berjuang menghidupi keluarganya dg berjualan kerupuk. Perjalanan yg dia tempuh dg berjalan kaki cukuplah jauh bahkan meskipun ditempuh oleh seseorang yg masih memiliki panca indera penglihatan yang baik.

Berjalan berkeliling menjajakan kerupuknya demi uang ribuan untuk menafkahi istri dan anaknya. Mungkin untung yang diperoleh dari berjualan kerupuk ini tidaklah seberapa, namun, laki2 ini beranggapan, bahwa ' kerja keras lebih baik daripada meminta2, dan dia bersyukur atas kondisi hidupnya saat ini dengan tetap berusaha memanfaatkan kondisi fisiknya yang masih sehat dengan berjualan.

Tak hanya si laki2 tuna netra, namun, istrinya pun merupakan seorang tuna netra mandiri. Perempuan ini mampu melakukan semua pekerjaan rumah dengan baik seperti seorang wanita lain dg penglihatan yang normal. Sehari-hari, perempuan ini berbelanja ke warung, lalu menyiapkan bahan masakan, dan meramunya menjadi suatu sajian makanan yang enak. Meski tidak dapat melihat, pekerjaan rumah tangga lainnya pun dapat dilakukannya dengan baik.

Sungguh merupakan kisah yang sangat menyentuh. Disaat masih banyaknya orang yang ' mengaku tidak mampu' namun dengan kondisi fisik yang sempurna, malah menjadi peminta2 di sepanjang jalan.. Bahkan ada laki-laki yang belum terlalu tua, dg kondisi fisik prima, memilih duduk di depan suatu supermarket untuk mengemis, namun ditangannya terdapat sebatang rokok yang tak henti2nya dihisap.

Sementara itu, banyak manusia dg kondisi ekonomi yang berkecukupan dan fisik sehat namun hanya menghambur2kan uang untuk hal2 yang tak ada manfaatnya. Padahal, banyak yang dapat dilakukan untuk memberikan manfaat dan berbagi kenikmatan dg kaum dhuafa..

Untukku sendiri, kisah ini membuatku sadar, bahwa tiap situasi memberi arti.. Tiap kondisi membuka peluang, jika kita bisa memanfaatkannya dg baik... Dg kondisi fisik yg alhamdulillah sempurna, aq harus bisa berbuat lebih banyak lagi.. Apalagi dengan profesiku saat ini..

Maha benar firman Allah, 'Nikmat manakah yang kalian ingkari ... ' Tak ada satupun yang diciptakan sia2 di bumi ini,. Dan untuk semua itulah qt sebagai manusia wajib berusaha,, roda kehidupan memang terus berputar, kadang qt sukses, kadang sebaliknya.. Kadang sehat, kdang sakit.. Kadang hidup berkecukupan, namun kadang pun sebaliknya...

Akan tetapi,, setiap situasi dan kondisi haruslah memberi arti dan mampu menorehkan tinta prestasi dalam hidup kita... Marilah qt mensyukuri nikmat yg qt peroleh hingga saat ini dg berusaha lebih baik dan memberikan manfaat untuk sesama ...

Kisah Inspiratif - Ayah Menggendong Mayat Anaknya Dari RSCM Ke Bogor Karena Tak Mampu Bayar Ambulan -

Supriono, seorang pemulung, membawa mayat anaknya
menyusuri jalan-jalan di Jakarta karena tidak mampu
membiayai penguburannya. Ironis, di tengah masyarakat
ibu kota yang gemerlap.

Sri suwarni, warga Manggarai, Jakarta Selatan, terkejut
bukan kepalang, kakinya gemetar. Supriono, pria yang
perna mengontrak rumah petaknya, bertandang secara
tiba-tiba dengan cara aneh, mengendong mayat anaknya.
Tamu yang sehari-hari berprofesi sebagai pemulung itu
mengaku kebinggungan mencari tempat untuk
menguburkan anaknya, “ kata Supriono kepada Sri, pada
sebuah Magrib hari Minggu, 5 juni lalu.

Awalnya, Sri mengira anak dalam gendongan Supriyanto
itu tidur lelap. Apalagi Supriono, pria asal Muntilan, Jawa
Tenggah, itu menggendong mayat Nur Khaerunisa,
anaknya, seolah sedang meninabobokan. “ saya piker dia
mau jalan-jalan dan butuh ongkos,” kata Sri kepada
Tempo, jumat pekan lalu. Sri jadi lemas ketika di jelaskan
bahwa anak dalam gendongan itu telah menjadi mayat.
Pertemuan Supriono dengan Sri itu merupakan ending
drama memilukan yang dialami pemulung kardus dan
botol plastik bekas itu. Sekaligus menjadi akhir kisah sedih
Supriono sepanjang hari, menyusuri jalan-jalan Jakarta
dengan menggendong anaknya yang telah tiada. Tanpa
diminta, Supriono pun bercerita kepada Sri Suwarni.
Awal juni lalu adalah awal dari kegundahan Supriono. Anak
bungsunya, Nur Khaerunisa, sedang sakit muntaber,
sementara biaya berobat tidak ada. “ Saya hanya
membawanya sekali ke puskesmas, dokter menyuruh
merawat inap, tapi saya tidak punya uang, “ kata
Supriono. Apa boleh buat, tubuh kecil tidak berdaya itu
meringkuk di gerobak berukuran sekitar 2 meter persegi,
berbaur dengan kardus dan botol plastik bekas. Dalam
kondisi seperti itu, Khaerunisa masaih dibawa ayahnya
bekerja memungut barang-barang bekas.

Sebenarnya, dokter di puskesmas setiabudi, Jakarta Pusat,
meminta Supriono membawa kembali anaknya untuk
berobat. Kemelaratan yang mendera keluarga pemulung
itu menbuat sang ayah menolak anjuran dokter. Sekali
berobat ke puskesmas, dia harus membayar Rp. 4.000.
meski biaya berobat itu sama dengan ongkos parkir mobil
di Jakarta kota, Supriono tidak sanggup membayarnya
karena ia hanya seorang pemulung.

Sebagai pemulung, penghasilannya sekitar Rp. 10 ribu
setiap hari. Uang itu harus cukup untuk biaya makan dia
dan dua anaknya. Muriski Saleh dan Nur Khaerunisa.

Bagaimana bisa mengobati anak, apalagi sampai
menungguinya di puskesmas? Pekerjaan pemulung harus
tetap dijalani. Khaerunisa yang lemas kesakitan terpaksa
pula dibawa dalam gerobak, sesekali dicandai oleh
kakaknya, Muriski saleh.

Tuhan rupanya turun tanggan menyelamatkan gadis cilik
tanpa dosa ini, setelah empat hari meringkuk dalam
gerobak, Khaerunisa dipanggil menghadap ke haribaan-
Nya. Pikul 07.00 pagi di hari Minggu, bocah berumur 3
tahun itu menghembuskan napas terakirnya di peraduan
Tuhan, sebuah gerobak tua yang berada di sebuah
“rumah” yang lapang tanpa atap dan dinding, di bawah
kereta laying kawasan Cikini. Supriono berkabung, Muriski
tak tahu adiknya meninggal, dan orang-orang sibuk lalu
lalang.

Supriono merogoh saku bajunya. Ada sedikit uang tersisa,
tapi tak sampai Rp. 10.000. “ jangankan menguburkan
anak, untuk membeli kain kafan saja saya tidak mampu,”
katanya. Kemelaratan membuat Supriono nekat ingin
membawa mayat Si bungsu ke Kampung Kramat, Bogor,
menggunakan kereta rel listrik ( KRL ) Jabotabek. Disana,
sebuah lokasi tempat kaumnya para pemulung bermukim,
dia berharap mendapat bantuan penguburan. Jakarta tak
memungkinkan hal itu. Begitu terlintas dalam pikiran
Supriono.

Mayat si bungsu pun dibawa menggunakan gerobak, alat
kerja sekaligus tempat tidur kedua anaknya setiap hari.
Dia menyusuri Jalan Cikini, Manggarai, menuju Stasiun
Tebet. Mendekati Stasiun, Khaerunisa dibopong
menggunakan kain sarung layaknya menggendong anak
yang masih hidup, agar tidak terlihat sudah meninggal,
wajah gadis mungil itu ditutup kain kaus. Sementara itu
tangganya yang lainnya menuntun Muriksi Saleh, bocah
enam tahun.

Melihat pria menggendong anak dengan muka tertutup,
seorang pedagang minuman iseng bertanya, “saya jawab
anak saya sudah mati dan akan dibawa ke Bogor,” kata
Supriono berterus-terang. Keterusterangan ini membawa
celaka, calon penumpang lain yang mendengar jawaban
itu serontak geger. Hari gini gendong mayat naik KRL?
Supriono pun digelandang bak pesakitan ke kantor polisi
Tebet.

Supriono lalu diperiksa di polsek Tebet, lebih dari empat
jam duda cerai dengan Sariyem itu di interogasi aparat.
Kesimpulannya, polisi tetap curiga, lalu memutuskan
mengirim mayat Khaerunisa untuk di otopsi. Supriono
tunduk dan menyerah. Tetapi di kamar mayat RSCM, dia
menolak tegas anaknya di otopsi. Masalahnya, ia tidak
punya uang untuk biaya otopsi itu, selain dia kasihan
melihat mayat putrinya yang sudah tenang dibedah.
Tubuh kaku Khaerunisa akhirnya tidak jadi dibedah,
namun Supriono meneken surat pernyataan penolakan
otopsi.

Aneh bin ajaib ( atau karena Supriono seorang
pemulung? ), mayat kecil itu diperbolehkan dibawa keluar
rumah sakit dengan cara digendong. Ke mana sang anak
harus dikuburkan? Pertanyaan itu menghujani pikiran
Supriono. Dalam keadaan binggung, ia membopok mayat
anaknya ke jalanan. Sejumlah sopir ambulans sempat
menawarkan jasa untuk mengangkut mayat itu. Jasa? Ya,
jasa di Jakarta berarti uamg. Sopir ambulans
mengurungkan jasa itu begitu mendengar Supriono tidak
punya uang untuk membayar.

Orang kecil seperti ditakdirkan berteman dengan orang
kecil. Para pedagan sekirat RSCM, beberapa orang lagi
yang kebetulan ada di trotoar, mulai urunan memberi uang
sekedarnya untuk Supriono. Merasa cukup punya uang
dari sedekah, supriono memanggil sopir bajaj. Ia tiba-tiba
teringat Sri Suwarni, pemilik rumah petak yang perna
disewanya beberapa tahun lalu. Bajaj pun meluncur ke
jalan Manggarai Utara VI,Jakarta Selatan, rumah petak Ibu
Sri.

Sri menetaskan air mata. Perempuan mana yang tidak
menangis mendengar kisah sedih di hari Minggu itu?
Tubuh mungil dalam balutan kain sarung warna merah
kekuningan itu lantas direngkuh dari dekapan Supriono.
Mayat itu lalu di baringkan diatas kasur tipis yang berada
di ruang tamu rumahnya. Wanita berusia 40 tahun itu lalu
meminta bantuan tetangganya. Warga setempat akhirnya
dengan tulus urunan membantu mengurus jenazah, ada
yang membeli kain kafan, ada yang memasang bendera
kuning disudut-sudut gang, ada yang berdoa dan
memandikan. Keesokan harinya, putri bungsu Supriono
dimakamkan di Blok A6 No.3 Taman Pemakaman Umum
( TPU ) Menteng Pulo, bunga surga itu pun akhirnya bisa
beristirahat dengan tenang, diantar orang-orang miskin
yang kaya amal.

Kisah Supriono, bak cerita dari negeri donggeng,
menyentak banyak orang. Berbagai media cetak dan
telivisi mengangkat berita itu menjadi headline. Berbagai
kalangan menyatakan berniat menyumbang, dari sekedar
memberi dana, memberi pekerjaan pada Supriono, sampai
membiayai sekolah Muriksi Saleh. Pendek kata, cerita pilu
pemulung itu mengusik naluri masyarakat yang kini
semakin materialistis.

Menurut Asisten Bagian Kesejahteraan Masyarakat Sekda
DKI Jakarta, Rohana Manggala, kasus Supriono seharusnya
tidak terjadi selama ini Pemda menyediakan pelayanan
gratis bagi orang tidak mampu. “Syaratnya mudah, tinggal
meminta surat keterangan tidak mampu dari RT/RW
dimana dia berdomisili,” katanya. Agar peristiwa serupa
tidak terjadi lagi, Rohana berharap pengurusan RT aktif
melakukan sosialisasi soal ini.

Siapa sebenarnya Supriono? “ saya mengenal keluarga
Supriono hanya sebentar. Tahun 2003 lalu mereka
mengontrak rumah petak saya”. Kata Sri Suwarni. Ketika
itu, Supriono mengontrak sebuah kamar berukuran 6
meter persegi. Sewa rumah panggung berdinding papan
tripleks dan seng bekas itu perbulan Rp. 140 ribu. Saat
tinggal dirumah kantrakan, kata Sri, Supriono bersama
istrinya Sariyem membawa banyak perabotan seperti
televisi 20 inci dan kipas angin.

Sri tidak mengikuti perkembangan Supriono sejak keluarga
itu tidak lagi mengontrak rumahnya. Terakir kabar yang
diterima Sri adalah Supriono bercerai dengan istrinya, yang
memilih pulang kampung, sejak pisah dengan istrinya,
Supriono hidup menggelandang dengan dua anaknya
menyusuri jalan-jalan di Jakarta. Dia sengaja membuat
gerobak kayunya tertutup di bagian tengahnya untuk
tempat tidur dan berlindung dua anaknya. Di bagian
depan gerobak di buat kotak yang digunakan untuk
menyimpan baju dan keperluan anaknya. “saya mangkal
di halte depan Gereja ( Isa Almasih ) Cikini. Kalau lagi
hujan, gerobak saya bawa ke halte, biar anak-anak tidak
kehujanan,” tutur Supriono tentang “domisilinya” itu.

Tuan-tuan pejabat di DKI, kalau domisili Supriono seperti
itu, ke mana dia harus meminta surat keterangan tidak
mampu?.

Sumber : biografi - web

Daging Sapi Tumis Paprika dengan Saos Tiram

Ini menu dinner kami hari ini.. Coba praktekin di dapurmu yaaa..

Bahan :
250 gram daging sapi
1 siung bawang bombay, cincang kasar
5 siung bawang putih, cincang kasar
3sdm cabe giling kasar
1 paprika merah ukuran sedang
Merica bubuk secukupnya
Garam secukupnya
Kecap manis secukupnya
Saos tiram secukupnya

Cara membuat :
- rebus daging hingga matang
- tumis bawang bombay, bawang putih, paprika dan cabe giling hingga harum
- masukkan daging sapi yang telah direbus, dan merica bubuk hingga daging berubah warna
- tambahkan garam, kecap manis dan saos tiram, lalu masak hingga bumbu meresap ke daging

Selamat Mencoba ^^